Game Indonesia telah mendunia ?

Perkembangan game asal Indonesia mulai menggeliat, meskipun belum begitu pesat seperti di Jepang, Amerika, Australia, dan Korea Selatan. Lalu, bagaimana agar industri game Indonesia lebih kompetitif?

Seiring berkembangnya teknologi multimedia, fungsi dan peranan komputer mulai bergeser. Dulu, komputer hanya berfungsi sebagai penyimpan atau pengumpul data, sekarang berubah menjadi alat hiburan. Lalu lahirlah berbagai aplikasi game dalam data komputer. Hal serupa terjadi pula pada telepon genggam. Selain berfungsi sebagai sarana komunikasi, sekarang telepon genggam juga berfungsi sebagai alat hiburan.

Pergeseran fungsi tersebut bisa dimaklumi karena banyak fasilitas game yang terdapat dalam telepon genggam. Fredy Purnomo, pengamat teknologi informasi dari Universitas Bina Nusantara (Binus) menerangkan kondisi tersebut merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang terjadi secara alami, tanpa rekayasa. Semuanya berproses sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi.

Fredy menambahkan, saat ini, negara yang berhasil mengembangkan teknologi game dan merespons perkembangan game adalah Jepang dan Korea Selatan. “Perkembangan game di Jepang dan Korea Selatan sangat pesat. Itu tidak lepas dari peranan masyarakat. Warga Korea Selatan merespons game secara positif atas kehadiran game,” tambah Fredy ketika ditemui di Universitas Binus, Jakarta, Rabu (12/6).

Melirik “Game” Lokal
Lalu bagaimana dengan game Indonesia. Apakah perkembangannya sudah seperti negara lain? Fredy menjelaskan perkembangan game asal Indonesia mulai menggeliat, meskipun belum begitu pesat seperti di Jepang, Amerika, Australia, dan Korea Selatan. Sudah cukup banyak game yang dilahirkan pengembang lokal (game development)

“Sudah ada game karya anak bangsa yang mendunia, berdiri sejajar di antara game-game asing,” tukasnya dengan nada bersemangat. Salah satu game lokal yang berhasil meramaikan kancah game internasional adalah Football Saga keluaran studio Agate. Game yang bersemboyan Football legends have been born again! ini sempat tayang di media sosial Facebook. Sukses Footbaal Saga pertama, studio game asal Yogyakarta ini mengeluarkan Football Saga 2.

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap game, perlahan-lahan studio game di Indonesia mulai bangkit. Fredy menuturkan di beberapa daerah, seperti Bandung dan Jakarta, studio game sudah mulai menjamur. Di Jakarta misalnya, ada Chocoarts. Studio ini berhasil memperkenalkan game berjudul Keto Adventure menggunakan karakter “Keto” sebagai tokoh utama dalam jajaran game-nya.

Hal serupa disampaikan oleh Michael Yoseph Ricky, Head of Game Application and Tecnology Program, Universitas Binus. Selain Agate juga ada Toge Production yang sukses melalui Infectonator, game yang bercerita soal zombie.

Masih kata Michael, kelemahan game Indonesia berada pada karakter tokoh. Karaker tokoh game Indonesia masih meniru karakter game negara lain. Salah satu karakter yang sering ditiru Indonesia adalah karakter game Jepang. Tapi, itu menjadi wajar lantaran Indonesia boleh dibilang pemain baru di dunia game internasional.

“Sebagai negara pemula, meniru sudah jadi hal lumrah, itu diperbolehkan. Jepang sebelum game menjadi industri, para pembuat game Jepang meniru karakter tokoh game Amerika,” tambahnya.

Setelah sukses dan diterima warganya sendiri serta pasar internasional, para pembuat game asal Jepang mencoba membuat karakter sendiri. Rambut lurus, wajah panjang, hidung sedikit ke dalam, dan menggunakan alat peraga lokal seperti samurai mulai ditonjolkan. Jadi budaya dan nilai lokal mulai dimasukkan.

Begitu pula Indonesia, saat ini, sedikit-sedikit, para pembuat game lokal mencoba berani tampil dengan identitas lokalnya. Itulah yang dilakukan studio Agate. Berhasil merilis game tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara pada masa lampau yang bernama Mayapadha dan telah diluncurkan di social mobile game platform baru, Gempon.

Mayapadha mengisahkan tentang sebuah jagat fiktif bernama Mayapadha, yang dihuni oleh tiga bangsa utama, yakni bangsa manusia, bangsa gaib, dan bangsa raksasa. Ketiga bangsa ini selalu berseteru, untuk menentukan siapa yang terbaik di antara mereka. Hingga pada suatu masa, para tetua dari tiga bangsa itu berkumpul, mencari solusi atas perseteruan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Akhirnya, mereka memutuskan membuat sebuah kompetisi, menunjuk siapa bangsa yang terkuat dan paling berhak atas Pusaka yang menjadi lambang kekuatan nomor wahid di Jagat Mayapadha.

Hal serupa dilakukan Fredy, membuat game yang bercerita tentang Kerajaan Singosari, dengan tokoh Ken Arok, Tunggul Ametung, Empu Gandring, dan tokoh lain. Dengan karakter wajah orang Indonesia dan alat yang digunakan sesuai budaya Indonesia atau Jawa Kuno yaitu keris dan pedang.

Menurut Michael, selain karakter, alur cerita harus diperhatikan sebab cerita juga punya daya tarik yang tinggi dalam mengikat pemain untuk selalu bermain. Walaupun begitu, kemampuan pembuat game Indonesia sudah cukup baik. Tapi kemampuan tersebut belum merata, masih terbatas pada golongan tertentu.

Game lokal juga belum mampu bersaing dengan game Korea. Sebagai contoh, game online besutan Negeri Ginseng bernama Point Blank punya server sendiri di beberapa negara seperti Thailand, Rusia, Indonesia, Brasil, Peru, dan Amerika Serikat. “Oleh sebab itu, Indonesia masih perlu mengejar ketertinggalan dalam membangun infrastruktur game agar bisa mendunia,” pungkas Michael. faisal chaniago

sumber link : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/122308

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s