Cinta sang pujangga

Cinta sang pujangga
Dari suatu pagi dalam kesunyian malam, seorang pria dengan suara yang sayu mencoba merangkai kata, dari satu kata ke kata lainnya dirangkai hingga menjadi satu kalimat indah, tatapan wajahnya dihiasi dengan senyum dan kekaguman terhadap sesuatu, dapat kulihat bahwa dia sedang jatuh cinta, sang pujangga yang biasanya lancar membuat puisi indah kini terlihat kebingungan ternyata yang dinamakan cinta mampu membuat segalanya terbalik, yang tadinya tak mampu menjadi mampu, sedangkan yang mudah menjadi sulit itulah gangguan perasaan.
Ketika adzan berkumandang dia berhenti sejenak dan menuju masjid. Dalam satu keheningan dia bermunajat kepada sang penguasa alam semesta, dengan setulus hati dan ikhlas dia memohon dan meminta,” ya Robbi aku memohon padamu, berikan aku wanita yang bisa membimbingku kedalam surgamu, amin”. Setelah usai ia bergegas pergi menuju hutan untuk mencari ketenangan disana, ketika tiba dalam perjalanan tampak terdengar suara lelaki memanggilnya, “hai pemuda bila kamu ingin dapatkan dia, kamu harus menjadi budakku”, lalu pemuda itu berkata, “maaf kisana saya tak akan menjadi budakmu, walaupun saya sangat menginginkan perempuan itu, saya yakin bila allah menjodohkan dia untuk saya, pasti dia akan kepangkuan hatiku”. Akhirnya suara pria itu hilang dan pujangga berjalan seraya berzikir kepada allah, sampailah ditengah hutan, dia duduk diatas batu dan merangkai sebuah puisi indah. Tanpa sengaja waktu larut dan matahari telah ada diatas, diapun menuju sungai dan wudhu kembali ke batu tadi dan kembali bermunajat kepada sang illahi. Setelah itu, sudah dia putuskan untuk kembali ke desa dalam perjalanan bahagia di hati terlihat dari pancaran wajah sang pujaan hati tawanya membuat sang pujangga ingin terus melihatnya tapi disatu sisi perasaan itu kini menguat dihati dan menghadirkan keresahan yang nyata, “ kenapa aku selalu memikirkannya?” bingung hati sang pujangga dapat terlihat jelas dari pancaran matanya, ada perdebatan hati, ia ingin tak selalu memikirkan tentang wanita itu meskipun kenyataanya dia mencintainya dengan sangat dicintainya perempuan itu, sejak saat itu, dia akhirnya memperbaiki diri agar menjadi seorang muslim yang lebih baik dari kemarin. Minggu-minggu selanjutnya sehabis mengaji, dia tanyakan pada sang guru, “bila hati ini kian risau karena rasa cinta tertahan dihati apakah yang harus kuperbuat?”, “perbanyak zikir dan tadarus alquran untuk kau hilangkan rasa ragu itu, insyaallah allah akan memberikan ketenangan dihatimu”, jawab gurunya. Berpamitan dengan gurunya lalu dia menuju rumah dalam perjalanan, perempuan itu terlihat jelas lalu dia menghampiri pemuda ini, “assalamualaikum, bisakah nanti malam uda main kerumah, aku dan orang tuaku mengundangmu untuk main kerumah”, ujar perempuan ini. “walaikumsalam, insyaallah saya nanti bersilahturahmi kerumahmu”, ujar pemuda itu. Akhirnya perempuan itu bergerak meninggalkannya dan menuju sebuah bangunan yang tak lain adalah rumahnya.
Perempuan itu kini menyiapkan makanan untuk jamuan nanti malam, dapat terlihat jelas kalau dia menyukai pemuda itu dan telah memberitahukan kepada orang tuanya kalau dia ingin menikah dengannya dan orang tuanya mengundangnya untuk melamar pemuda itu untuk anak perempuannya. Pemuda ini kini sedang berada dirumahnya beristirahat karena seharian penuh dia berladang disawah. Dia sejenak memejamkan matanya untuk tidur, di lain cerita wirna dan ibunya sedang menyiapkan masakkan untuk kedatangan pemuda itu. “nak sudah lama bunda tak melihatmu begitu bahagianya”, cakap sang bunda. “ga kok bunda aku kan setiap hari selalu bahagia”, ujar wirna. Ibu dan anak perempuannya bercengkrama dengan tawa dan di satu sisi ayah si perempuan sedang menikmati opor bebek di meja makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang dan pemuda itu bangun dari tidurnya dan menuju ke sebuah mushola di dekat hutan, setelah selesai sholat dia menceritakan kepada pamannya kalau dia diundang kerumah bapak nazaruddin. Pamannya hanya bisa berpesan kepada keponakannya kalau dia harus menjaga sopan santun. Dan kemudian dia pergi dan menuju ke suatu tempat untuk menemui sahabatnya yang bernama samudera. Mereka bertemu di tengah hutan dan mereka sebelumnya sudah mempunyai janji untuk berlatih ilmu bela diri bersama. Akhirnya mereka bertemu ditengah hutan dan terlihat ada lelaki sedang duduk seraya berzikir kepada allah s.w.t. “assalamualaikum, maaf terlambat kawan, tadi ada urusan sebentar”, ujar pemuda itu. “tak apa aku juga baru tiba”, ujar sahabatnya. Dan mereka mulai berlatih bersama, tiap gerakan yang dihasilkan sangat berbahaya mungkin kalau kedua lelaki ini sedang dalam kondisi emosi mungkin dapat saling membunuh. Tapi mereka berlatih hanya untuk menjaga kesehatan mereka dan tak lebih. Setelah hampir 2 jam lebih mereka berlatih akhirnya mereka pergi menuju rumah masing-masing untuk mebersihkan diri untuk beribadah. Kedua lelaki bersahabat dari kecil meskipun kini mereka tinggal beda kampung. Adzan berkumandang dan kedua pemuda tadi pergi menuju masjid yang berada di samping rumah datuk seranggi. Setelah selesai sholat samudera pulang menuju rumahnya dan pemuda itu pergi untuk memenuhi undangan dari bapak nazaruddin karena waktu sudah memasuki ba’da isya, ternyata kedua pemuda tadi menghabiskan waktu dari ashar sampai isya dimasjid. Sampailah pemuda itu dirumah bapak nazaruddin yang tak lain ayah tercinta dari perempuan yang dia suka. Salam terucap dari bibir pemuda tersebut, dan tuan rumah pun menjawabnya, dari raut wajah sang perempuan terpancar kebahagian sampai tak sadarkan pipinya merah merona, segenap hati dia beranikan untuk mengintip dari balik kain yang membatasi dapur dan ruang tamu, “kemarilah anakku bantu bunda dulu merapikan meja makan”, sahut ibunya setelah mendengar itu ia langsung menghampiri ibunya. Disatu sisi pemuda itu sedang bercengkrama dengan ayahnya wirna. “Namamu siapa pemuda”, tanya sang ayah, “nama saya Rosyid”,jawab sang pemuda. Bercengkrama dengan akrab sangat ayah dari wirna dengan rosyid. Sampai –sampai tak sadarkan mereka lupa kalau sudah waktunya makan. “ayo kita makan dulu, sudah siap makanannya”, ibunya berkata. “ayo nak kita makan dulu”, ayahnya berkata. Mereka pun makan bersama dalam satu meja, mereka terlihat akrab dan hal itu membuat wirna bahagia.” Alhamdulillah ternyata kedua orang tuaku menyukainya”,ucap syukur wirna dalam hati. Setelah makan malam pemuda itu pun berpamitan dan meminta izin untuk pulang. Dalam perjalanan pulang sang pemuda bertemu dengan beberapa orang dan menantang pemuda itu untuk bertarung, pemuda itu menolak, lalu mereka tetap melancarkan pukulan kearah pemuda itu dan terjadilah perkelahian. Dalam perkelahian, sekelompok orang tersebut menggunakan pedang semua dan pemuda itu pun berhasil mematahkan serangan sekelompok orang itu dan tiba-tiba, satu persatu sekelompok orang itu berjatuhan sambil menahan sakit dan terlihatlah sesosok pemuda mengenakan gamis menghampiri rosyid, dan rosyid pun merasa seperti mengenal pemuda itu lalu bulan purnama pun muncul dan barulah terlihat wajah dari pemuda itu dan yang tak lain adalah sahabatnya rosyid yaitu samudra. “kenapa orang-orang ini menyerangmu?”, tanya samudra . “aku tak mengerti?”, jawab rosyid. Dan sekelompok pemuda tersebut semuanya tak sadarkan diri, rosyid tampak takut melihatnya, “apa yang kau lakukan pada orang-orang ini?”, rosyid bertanya. Hanya satu pukulan kuarahkan pada masing-masing orang, aku tak ingin membunuh, insyaallah besok pagi mereka sadar”, jawab samudra dan mereka berdua memindahkan delapan orang tersebut kesebuah pondok ditengah sawah dan ditinggalkannya mereka. Dan rosyid pun menceritakan pertemuannya dengan orang tua wirna kepada samudra.dapat terlihat wajah rosyid bahagia menceritakan itu dan samudra pun menegurnya agar jangan lupa mengucap syukur kepada allah s.w.t atas anugerahnya kepadamu kawan. Rosyid pun mengatakan ia kawan aku tak ingin mengingkari kenikmatan yang allah berikan kepadaku. Dan keduanya istirahat disebuah musholah. Dan keduanya pun terbangun sebelum adzan subuh dan berniat untuk sholat tahajud, sholat tahajud pun dikerjakan setelah usai mereka berzikir akhirnya tibalah waktu untuk memasuki adzan subuh, rosyid pun mengumandangkan adzannya, dan terlihat sekelompok orang beriringan berbondong-bondong menuju musholah. Dan sholat subuh berjamaah dilakukan, seusai sholat samudra pergi menuju rumah dan bapak dari wirna menghampiri rosyid dan memintanya untuk menikah dengan putrinya, dan akhirnya pada pukul 10 pagi usai sholat dhuha seluruh keluarga, dan warga sekitar menghadiri akad nikah wirna dan rosyid, dan ternyata sekelompok orang itu adalah orang suruhan bapaknya wirna, ia meminta maaf karena tak ada maksud untuk mencelakai rosyid tapi ia ingin tahu apa calon suami anaknya mampu melindungi dirinya dan orang banyak dan akhirnya akad nikah pun dilangsungkan dan akhirnya terucap kata sah dari saksi, akhirnya rosyid dan wirna bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s