kebiasaan Merantau masyarakat minangkabau

Bagi anak laki-laki yang sudah siap nikah tapi belum mampu secara finansial, dalam tradisi minang, diwajibkan untuk merantau, kalau dia tidak merantau dia akan menjadi bahan cemooh dari masyarakat sekitar. Kebiasaan merantau juga berfungsi sebagai suatu perjalanan spiritual dan batu ujian bagi kaum lelaki Minangkabau dalam menjalani kehidupan. Kaum pria Minangkabau yang biasanya telah menguasai ilmu beladiri pencak silat untuk menjaga diri, berangkat pergi merantau dari kampung ketempat yang jauh hanya berbekal sehelai kain sarung dan sedikit uang, bahkan tak jarang tanpa uang sama sekali. Kehidupan yang keras, jauh dari sanak saudara diharapkan menjadi cobaan untuk menempa jiwa, kegigihan, dan keuletan si pria Minang dalam meningkatkan derajat penghidupannya.
Sudah sejak lama tradisi ini ada, di tanah rantaunya mereka dengan cepatnya menyesuaikan diri bahkan kita disini pasti pernah dengar prinsip mereka di tanah rantaunya “ dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang”. Bagi pria yang merantau mereka akan sangat bangga ketika mereka kembali ke kampuang halaman yang telah sukses ditanah rantaunya, sewaktu ada ditanah rantau mereka bekerja dengan kerasya tapi mereka tak melakukan pekerjaan yang haram, hampir semua dari masyarakat minang adalah muslim yang taat sehingga insyaallah, mereka juga tetap menjaga syariah islam ditanah rantaunya.
Dari hal di atas, saya pribadi sangat terkesan sekali akan budaya dari tanah minang karena kita dapat mengambil pelajaran bahwa dunia itu tak sempit kita masih bisa mencari hal yang berbau finansial dengan cara pergi kedaerah lain mungkin disana ada rizeki untuk kita dan disana kita juga harus menghormati hukum yang ada pada masyarakat di tanah rantauan dan yang terlebih lagi merantau juga dapat dijadikan perjalanan spiritual seorang laki-laki untuk mencapai tujuannya, rasulullah s.a.w. juga pernah berhijrah dari mekah ke madinah karena waktu itu penyebaran islam dimekah mendapat ancaman dari kaum kafir tapi ketika rasulullah ada di madinah, beliau mendapat sambutan hangat dari kaum yang ada dimadinah. Karena itulah saya sangat kagum dengan adat minang yaitu merantau/hijrah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s